Para Penerus Bangsa Korban Media | Beropini Eps. 1

23.55

Sebenernya udah lama banget ngrasa risih, males, dan jengkel sama keadaan dimana semua tayangan televisi di Indonesia udah bener-bener gak bikin penontonnya pinter. Gak cuman di televisi tapi juga di internet. Gak jarang kita lihat banyak orang yang nelen mentah-mentah suatu berita dan orang-orang pada comment disitu tanpa difilter terus jadi berantem sama strangers dengan merasa opini masing-masing itu bener.

Mereka ini aku anggep korban media, kenapa? Karena mereka gak sadar ketika baca berita itu dan ikut terprovokasi sampai ikutan berantem di comment section antar netizen disitu. Ada lagi, gak cuman di portal berita, para korban media ini juga sering muncul di instagram. Mereka berantem disitu sama strangers cuman karena masalah gosip artis yang cerai. Lucu kan? Emang. Kadang aku sempet mikir, kenapa mereka bisa dengan mudahnya mempermalukan diri sendiri dengan berantem di internet tentang sesuatu yang gak penting. Aku gak ngerti gitu, kenapa mereka lebih seneng ngurusin hidup orang lain, ngomenin appearance orang lain, keburukan orang lain dibanding mempergunakan internet buat bikin otak mereka pinter. Kenapa para penerus bangsa ini lebih milih menyia-nyiakan paket data mereka cuman buat kepo atau stalking orang lain yang ujung-ujungnya buat dinyinyir. Pemikiran yang menurutku bener-bener sia-sia dan buang-buang waktu dan tenaga. Kenapa mereka gak lebih baik memanfaatkan fasilitas internet untuk surfing sesuatu yang berfaedah.

Pernah suatu waktu aku baca buku A. Fuadi, dia bilang waktu dia kuliah di luar negeri bikin dia lebih fokus sama materi dan lebih bisa belajar kondusif tanpa adanya pengaruh berita-berita hoax dan gak jelas asal usulnya. Sampai suatu titik ketika aku masih kuliah di Indo dan baca buku dia ini, aku sadar setelah pindah ke China kalo ternyata sampai sejauh itu pengaruhnya. Sesuatu yang baru aku telen doang dan belum tau apa sih poin yang aku cari dari semua ini, ternyata aku temuin di buku itu. Dan ternyata emang bener, itu ngaruh banget. Sering waktu kuliah dulu ngumpul sama temen-temen, mereka pada bahas apa? Bahas gosip artis yang cerai, bahas orang lain di instagram yang jidatnya lebar, bahas lelucon om tolelot om, bahas berita-berita hoax apalagi berita tentang agama yang aneh-aneh. Sering juga aku ngomong kalo gak tertarik sama berita dan bahas atau gosipin orang lain, karena itu gak penting dan gak ada manfaatnya. Kalaupun mau baca berita dan mau tau kebenaran suatu berita, baca berita yang menyangkut permasalahan tersebut sebanyak-banyaknya. Analisis itu satu-satu. Diskusi sama temen atau orang yang sekiranya paham dan baru dapetin conclusionnya.

Tapi malah suatu hari temenku bilang kok kamu gak suka baca berita sih, baca berita itu penting biar tau perkembangan dunia. Loh, it doesn’t mean aku gak suka baca berita, tapi lebih prefer buat baca berita yang sehat. Baca berita itu konteksnya besar, kalo baca berita gosip artis cerai, buat apa?

Aku kadang miris sama mereka yang kerjaannya berantem di comment section sampek bikin unknown profile cuman buat ikutan nimbrung berantem di instagram orang. It’s useless. Banget. Loh kok kamu tau ve? Kamu baca berita mereka juga? Iya. Aku baca dan observasi sampai sejauh mana mental dan pola pikir para penerus bangsa kita yang jadi korban media ini. And the thing is, most of them did it. Miris.

Negara kita itu butuh orang yang sehat. Bukan sehat jasmani yang tiap hari kalian makan nasi, sayur dan lauk pauk sampai 4 sehat 5 sempurna. Tapi negara ini butuh kita yang sehat pola pikirnya, yang peduli dengan keadaan negaranya, yang sehat mentalnya dari cekokan berita-berita hoax. Yang gak mudah tersungut dan terpengaruh berita agama kontroversial. Tapi sayangnya, di Indonesia mungkin cuman ada 20% populasi manusia yang sehat.

Kalo kita generasi penerus bangsa yang jadi tulang punggung bangsa ini masih gampang dicekokin berita dan lelucon gak mutu, mau upacara terus-terusan tiap hari senin ya gak ada fungsinya. Terus kapan Indonesia mau maju? When the hell freezes over. Never.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images