- 08.47
- 0 Comments
Kuliah
ke luar negeri? Ngapain? Biaya kuliah ke luar negeri mahal banget loh! Di luar
negeri nanti kita bakal jauh dari orang tua! Universitas di Indonesia kan
banyak yang bagus, kenapa harus ke luar negeri? Begitulah sekiranya segudang
kalimat horor yang secara tidak kalian sadari telah mempengaruhi kalian untuk tidak
melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Hello
guys? Apa sih yang membuat kalian ragu untuk kuliah ke luar negeri? Jika
kalimat-kalimat di atas sering menjumpai pikiran kalian, maka kalian harus
membaca 6 alasan berikut mengapa kalian harus kuliah keluar negeri tanpa pikir
panjang! Yuk simak 6 alasan tersebut dibawah ini:
1. Better
Education and Life
Orang tua saya pernah berkata bahwa
seorang sarjana belum tentu makmur hidupnya, apalagi jika hanya seorang tamatan
sekolah atas. Memang sejarah membuktikan banyak mereka yang sukses lahir dari
pegalaman, bukan dari gerbang universitas. Namun, tujuan pendidikan bukan untuk
kemakmuran. Pendidikan akan membuka banyak peluang bukan saja untuk
keberhasilan masa depan, tetapi juga untuk memutus rantai kebodohan. Kuliah ke
luar negeri akan memberikan peluang itu semua, yaitu pendidikan dan kehidupan
yang lebih baik dari pada kehidupanmu saat ini.
Bagaimana dengan di dalam negeri?
Universitas di dalam negeri juga tidak kalah bagusnya, hanya saja kuliah di
negara maju akan memberikan kita akses pendidikan yang lebih baik. Kita bisa
menikmati fasilitas pendidikan kelas internasional, laboratorium super canggih,
kurikulum kelas dunia, pengajar-pengajar yang sudah berkeliling dunia
memberikan seminar, dan masih banyak lagi. Bukannya sangat membanggakan jika
kita mendapatkan itu semua dari pada teman kita yang belajar di dalam negeri?
2. Get
New Experience dan Knowledge
Pengalaman dan wawasan yang kita
dapatkan merupakan investasi jangka panjang yang tidak ternilai harganya. Pernahkah
anda sadari, perbedaan antara satu orang dan lainnya dapat dilihat dari wawasan
yang mereka miliki. Terlahir dari ibu yang sama, keluar dari gerbang kampus
yang sama, dibimbing oleh guru yang sama tidak menjamin seseorang akan sama
pola pikirnya.
Belajar di luar negeri otomatis
membuat wawasan kamu akan meningkat baik dari segi penguasaan bahasa, pemahaman
tentang negara kita sendiri, hingga wawasan tentang perkembangan dunia. Wawasan
tersebut tidak akan kamu dapatkan manakala jalan yang kamu lalui hanya sebatas
jalan arteri kabupaten di tempat kamu tinggal. Kamu tidak dapat menceritakan
serunya bermain salju jika hanya melihatnya dari layar televisi.
3. Build
Networking
Memiliki banyak teman dari manca
negara merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi kamu. Peluang ini tentu saja
secara langsung akan kamu dapatkan setelah berhasil di terima di universitas
luar negeri. Kita dapat bertukar informasi dan saling memberi masukan. Bahkan
kita dapat mengontak mereka saat menghadiri konferensi di negara mereka.
Memiliki jaringan dengan pelajar dari manca negara juga sangat penting terutama
jika berniat untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri atau mengirim kolega
untuk kuliah suatu saat nanti.
4. Learning
New Culture and Language
Mengenal masyarakat secara
internasional yang multikultural pastinya akan menyenangkan. Bertukar budaya,
pemahaman, dan pengalaman hidup akan membuat kita tumbuh maju. Dikaji dari segi
bahasa, dengan belajar di luar negeri maka kamu akan memiliki peluang besar
untuk mengasah bahasa asing. Sadar atau tidak, sehebat apapun bahasa asing yang
dimiliki akan terasa hambar jika berada di negara tempat asal bahasa itu
tumbuh. Begitupun dengan penguasaan bahasa asing, bukankah kunci dari
penguasaan bahasa adalah dengan sering mendengar dan menggunakannya?
5. Inspire
Others
Jika anda memiliki kerabat atau
teman yang sudah kembali ke tanah air setelah belajar dari luar negeri, kamu pasti
ingin segera mendengar cerita dari pengalaman mereka bukan? Cerita-cerita dari
mereka secara tidak langsung dapat merubah pola pikirmu. Kemudian kamu
menjadikan figur tersebut sebagai contoh nyata, dimana pengalaman dan
wawasannya akan kamu terapkan untuk mencapai target-target hidupmu selanjutnya.
Sebagai contoh, kamu mempunyai teman yang baru saja kembali dari Belanda, karena
bidang pendidikan kamu dikaji lebih dalam di negara yang sama, kamu memiliki
tujuan untuk mengambil master di sana. Kamu ingin bertanya kiat-kiat
mendapatkan beasiswa ke negara tersebut karena temanmu telah mendapatkannya. Saya
sangat yakin, di dalam hatimu, kamu berkeingingan lolos beasiswa seperti
rekanmu ini. Dapat dipahami di sini bahwa pengaruhnya sangat besar dalam hidup
kamu bukan? Salah satunya saat ini, kamu membaca artikel ini karena cerita dan
pengalaman dari mereka.
Suatu hari nanti setelah kembali
dari luar negeri, kamu akan merasakan betapa bahagianya dapat menjadi inspirasi
bagi orang lain. Bahkan sebelum kamu berangkat ke luar negeri pun, kamu sudah menjadi
inspirasi bagi mereka.
6. Self
Conception
Saya mengajak kalian untuk menjawab
satu pertanyaan simpel ini, “Mana yang lebih memiliki nilai jual, mahasiswa
tamatan universitas besar atau universitas biasa?” Mungkin kalian akan menjawab
universitas besar. Tidak ada salahnya, tetapi yang perlu kalian ketahui, di
luar negeri itu akan sama saja. Walau memang ada universitas favorit, kualitas
pendidikan disamaratakan di seluruh negeri. Maka, hasil lulusannya sudah pasti
semua berkualitas.
Di awal tadi saya sudah jelaskan,
meskipun dilahirkan dari rahim ibu yang sama, seseorang akan memiliki pola
pikir yang berbeda. Harga diri seseorang yang melanjutkan pendidikan di luar
negeri, akan meningkat drastis. Serta menjadi nilai jual pada kemudian hari.
Kamu yang dulu kesulitan, bahkan sudah malu untuk menenteng ijazah ke sana
kemari atau selalu merasa tidak berguna setelah menjadi sarjana, rasa itu akan
segera berlalu dengan hitungan bulan saja setelah menginjakkan kaki di negara
yang kamu tuju. Kamu yang dulunya dipandang remeh, setelah kuliah di luar negeri
akan jadi incaran banyak kalangan. Tidak percaya? Coba saja! Harga akan dinilai
sesuai dengan pencapaian yang Kamu peroleh.
Bagaimana teman-teman?
Setelah membaca 6 alasan tadi, masih ragu untuk kuliah ke luar negeri? Semoga
artikel ini dapat membantu kalian yang krisis kepercayaan diri untuk bermimpi melanjutkan
pendidikan ke luar negeri. Sebab kata Junaidi W. Tarmuloe “Mimpi tetaplah
sebuah mimpi, tidak peduli kaya atau miskin. Berhenti berarti akan mewariskan
kesusahan kepada generasi selanjutnya, maju masih ada kemungkinan untuk bangkit
walau tidak ada jaminan sama sekali. Paling tidak 50% : 50% jika mau serius,
untuk menggapainya hanya dibutuhkan satu kunci, menjaga semangat tetap maju.”
Sumber:
Kariza, A. (2014), Travel Young, Gagas Media, Jakarta
Selatan.
Tarmuloe, J.W. (2015), Seribu Asa Dari Negeri Sakura, Quantum,
Yogyakarta.
- 00.57
- 0 Comments
Sebenernya udah lama
banget ngrasa risih, males, dan jengkel sama keadaan dimana semua tayangan
televisi di Indonesia udah bener-bener gak bikin penontonnya pinter. Gak cuman
di televisi tapi juga di internet. Gak jarang kita lihat banyak orang yang
nelen mentah-mentah suatu berita dan orang-orang pada comment disitu tanpa
difilter terus jadi berantem sama strangers dengan merasa opini masing-masing
itu bener.
Mereka ini aku anggep
korban media, kenapa? Karena mereka gak sadar ketika baca berita itu dan ikut
terprovokasi sampai ikutan berantem di comment section antar netizen disitu. Ada
lagi, gak cuman di portal berita, para korban media ini juga sering muncul di
instagram. Mereka berantem disitu sama strangers cuman karena masalah gosip
artis yang cerai. Lucu kan? Emang. Kadang aku sempet mikir, kenapa mereka bisa
dengan mudahnya mempermalukan diri sendiri dengan berantem di internet tentang
sesuatu yang gak penting. Aku gak ngerti gitu, kenapa mereka lebih seneng
ngurusin hidup orang lain, ngomenin appearance orang lain, keburukan orang lain
dibanding mempergunakan internet buat bikin otak mereka pinter. Kenapa para
penerus bangsa ini lebih milih menyia-nyiakan paket data mereka cuman buat kepo
atau stalking orang lain yang ujung-ujungnya buat dinyinyir. Pemikiran yang
menurutku bener-bener sia-sia dan buang-buang waktu dan tenaga. Kenapa mereka
gak lebih baik memanfaatkan fasilitas internet untuk surfing sesuatu yang
berfaedah.
Pernah suatu waktu aku
baca buku A. Fuadi, dia bilang waktu dia kuliah di luar negeri bikin dia lebih
fokus sama materi dan lebih bisa belajar kondusif tanpa adanya pengaruh
berita-berita hoax dan gak jelas asal usulnya. Sampai suatu titik ketika aku masih
kuliah di Indo dan baca buku dia ini, aku sadar setelah pindah ke China kalo
ternyata sampai sejauh itu pengaruhnya. Sesuatu yang baru aku telen doang dan
belum tau apa sih poin yang aku cari dari semua ini, ternyata aku temuin di
buku itu. Dan ternyata emang bener, itu ngaruh banget. Sering waktu kuliah dulu
ngumpul sama temen-temen, mereka pada bahas apa? Bahas gosip artis yang cerai,
bahas orang lain di instagram yang jidatnya lebar, bahas lelucon om tolelot om,
bahas berita-berita hoax apalagi berita tentang agama yang aneh-aneh. Sering juga
aku ngomong kalo gak tertarik sama berita dan bahas atau gosipin orang lain,
karena itu gak penting dan gak ada manfaatnya. Kalaupun mau baca berita dan mau
tau kebenaran suatu berita, baca berita yang menyangkut permasalahan tersebut
sebanyak-banyaknya. Analisis itu satu-satu. Diskusi sama temen atau orang yang
sekiranya paham dan baru dapetin conclusionnya.
Tapi malah suatu hari
temenku bilang kok kamu gak suka baca berita sih, baca berita itu penting biar tau
perkembangan dunia. Loh, it doesn’t mean aku gak suka baca berita, tapi lebih
prefer buat baca berita yang sehat. Baca berita itu konteksnya besar, kalo baca
berita gosip artis cerai, buat apa?
Aku kadang miris sama
mereka yang kerjaannya berantem di comment section sampek bikin unknown profile
cuman buat ikutan nimbrung berantem di instagram orang. It’s useless. Banget. Loh
kok kamu tau ve? Kamu baca berita mereka juga? Iya. Aku baca dan observasi
sampai sejauh mana mental dan pola pikir para penerus bangsa kita yang jadi korban
media ini. And the thing is, most of them did it. Miris.
Negara kita itu butuh
orang yang sehat. Bukan sehat jasmani yang tiap hari kalian makan nasi, sayur
dan lauk pauk sampai 4 sehat 5 sempurna. Tapi negara ini butuh kita yang sehat
pola pikirnya, yang peduli dengan keadaan negaranya, yang sehat mentalnya dari
cekokan berita-berita hoax. Yang gak mudah tersungut dan terpengaruh berita
agama kontroversial. Tapi sayangnya, di Indonesia mungkin cuman ada 20%
populasi manusia yang sehat.
Kalo kita generasi
penerus bangsa yang jadi tulang punggung bangsa ini masih gampang dicekokin
berita dan lelucon gak mutu, mau upacara terus-terusan tiap hari senin ya gak
ada fungsinya. Terus kapan Indonesia mau maju? When the hell freezes over.
Never.
- 23.55
- 0 Comments
Setelah
lulus dari UGM bulan Agustus 2016 kemarin, aku pindah ke Zhengzhou, China bulan
Oktober buat nglanjutin Bachelor disini. Jadi udah terhitung hampir 5 bulan dan
udah melewati satu semester. Awal dateng bener-bener kaget karena I didn't
notice that it would be cold this quick padahal masih musim gugur. Dan kaget
banget karena dinginnya bikin badan kaget gitu karna kita pada gak punya jaket
dingin dan suhunya mungkin cuma sekitar 16an. Sempet juga waktu itu pas malam
hari transit di Guangzhou, kita sampek tidur di lantai bandara yg super dingin
dan bikin menggigil karena harus nunggu Gate kita buka buat penerbangan ke
Zhengzhou keesokan paginya. The thing is, waktu itu kita gak mandi 2 hari karna
perjalanan Indo-Malaysia-Guangzhou-Zhengzhou, kebayang gak sih rasanya? Haha.
Jadi
awal dateng kita registrasi dulu, terus ada orientasi week kayak semacam ospek
gitu kalo di Indo. Isi orientasinya standard kok, namanya juga orientasi jadi
kita dikenalin kampus kita tuh gimana, ada fasilitas apa aja, kalo mau ngurus
administrasi kemana, hubungin siapa dulu, mau ngurus kartu mahasiswa yang
hilang harus ke gedung apa, karna universitas ini tuh gede banget, gak mungkin
kita kelilingin semua gedung cuman buat ngurusin sesuatu yang kecil, gak lucu
juga kan ya.
Karena
aku masuknya di School of International Education, meskipun jurusanku Civil
Engineering, aku gak bisa ngurusin masalah kampus di gedung Civil karna bukan
naungannya.
Nah,
aku mau cerita sedikit tentang kampus aku ini. Aku kuliah jurusan Civil
Engineering di Zhengzhou University yang lokasinya di Zhengzhou, capital city
of Henan Province. Orang-orang mungkin gak banyak yang tau kan itu lokasinya
dimana, yang kebanyakan orang tau tuh Beijing atau Shanghai padahal China itu
gede banget. Sama lah kayak bule juga kalo ditanya tau Indonesia nggak, mereka
pasti pada tau Jakarta atau Bali. Universitas di China itu pada keren-keren
karena gede-gede banget bangunan dan lokasinya. Kayak di Univku ini, disini
semua student even foreigner or not they should to take dormitory which is
harus tinggal di asrama, coy. Kebayang kan gedenya? Mereka harus nyediakan
dormitory buat mahasiswa, bahkan mungkin dosen dan pegawai kampus yang jumlahnya
lebih dari 10,000 orang. Maka dari itu, pihak kampus juga nyediain banyak
fasilitas buat semua orang disini seperti restaurant, canteen, salon, bank,
atm, counter hape, supermarket, dan lain-lain. Jadi kita gak perlu susah payah
keluar kampus buat bisa memenuhi kebutuhan pribadi karena didalam kampus aja
udah tersedia semua. Ada banyak fasilitas yang gak aku dapetin dulu waktu
kuliah di UGM yang bisa aku dapetin dengan mudah disini, jadi bersyukur banget
hehehe.
Oh
iya, Zhengzhou university ini tuh masuk kampus 211 kalo di China termasuk
universitas yang bagus. Dan univ ini mungkin semacam green university atau apa
aku gak terlalu paham karena didalam kampus kita punya hutan, taman, danau
bahkan bukit buatan yang udah kayak bukit beneran. Jadi suasana di kampus ini
tuh kondusif banget buat belajar.
Ngomongin
soal belajar, aku udah melewati satu semester disini dan alhamdulillah hasilnya
cukup memuaskan. Meskipun awalnya kaget karena gak kebiasa kan tinggal di
lantai 5 dan lokasi kelas di lantai 5 juga which is harus naik turun tangga setiap
hari, jalan kaki dan naik sepeda terus kemana-mana. Menghadapi materi yang
berbahasa inggris semua, biasanya bahasa indonesia yang mudah dipahami sekarang
harus belajar 2x lipat atau harus baca berkali-kali baru paham maksudnya
gimana. Kalo kalian ada yang dari jurusan engineering mungkin merasakan
englishnya engineering itu kadang beda arti jadi harus bener-bener ngerti. Tapi
alhamdulillah bisa melewati satu semester disini, awalnya udah kaget karena
sistem perkuliahannya beda, cara dosennya nerangin juga beda, ujian akhir juga
beda, dosen dengan seenaknya ngasih waktu ujian padahal kita lagi ada ujian
juga hari itu atau jadwal yang dia kasih mendadak banget buat kita jadi belum
siap belajar materinya. It's challenging! Mereka gak mau dan gak ada toleransi
buat student. Jadi mau gak mau harus belajar tiap hari.
Btw
kaget juga awalnya sama kebiasaan mahasiswa disini dan aku akui mereka harus
diacungi jempol. Everyone is studying here, it's true! Bayangin aja coy most of
them kebanyakan baca buku dimana-mana. Gak cuman dikelas, dikantin sambil makan
baca buku, ngantri beli minum baca buku, didanau berjemur sambil baca
buku, jalan ke kelas baca buku. Astaga kaget sumpah awalnya. Setelah tanya-tanya
ke temen Indo yang udah lama di China mereka bilang emang persaingan student di
China itu keras, bayangin aja mereka harus kuliah minimal Master buat bisa
dapet jabatan tinggi dan gaji yang besar buat hidup sejahtera. Ya bener juga
sih, China itu emang gede banget jadi gak kaget kalo persaingannya keras karna
penduduknya juga banyak.
Kalo
ngomongin kehidupan sebagai international student disini tuh ada enak gak
enaknya. Baru ngerasain sih ya kuliah di luar negeri jadi mungkin masih
ngerasain enak-enaknya. Tapi overall emang enak meskipun banyak gak enaknya
juga seperti perihal akademiknya atau kehidupannya disini yang ngrasain culture
shock, adapt, membiasakan diri sama kehidupan orang sini, dan sebagainya.
Enaknya tuh kita bisa kenal mahasiswa dari berbagai negara kayak Thailand,
Bangladesh, Russia, Kyrgystan, Kazakhstan, Africa, India, Jepang, Korea, dll.
Kita bisa ngobrolin tentang kehidupan mereka di negara asal mereka, ngobrolin
perkuliahan atau bertukar pikiran sama mereka. Kalo dulu waktu awal dateng kita
disambut sangat hangat sama orang-orang di Civil Engineering Department, diajak
foto-foto gitu sama penyambutan. Pas waktu internship week juga juara banget,
kita ke proyek sama Professor dari department dan ditunjukin gitu ke tiap
proyek, dijemput gitu pake bis kecil kampus, enak banget lah. Bahkan baru-baru
ini waktu Chinese New Year, kampus ngundang kita semua foreigner student buat
diajak makan-makan di restaurant di dalem kampus sih cuman bener-bener worth it
karena kita barengan pesta makan-makan dan ngobrol sama foreigner student,
dosen dan pegawai school of international. Seru banget waktu itu, gak nyangka
ternyata bisa ngrasain juga diistimewakan sama pihak kampus. Haha. Soalnya
sebelumnya waktu kita di UGM pernah lihat gitu waktu ospek panas-panasan di
lapangan gitu kan, nah ada mahasiswa dari Jerman gitu malah pake payung sama bu
Rektor. Sekarang ngrasain sendiri enaknya jadi foreigner student hehe.
Cuman
dibalik itu semua ada banyak kesulitan yang sudah aku hadapi dibelakang. Gimana
susah payahnya tugas akhir, daftar dan ngurusin segala macemnya buat bisa
berangkat kesini dan ngrasain ini semua sekarang. It paid off! Emang bener,
usaha itu gak menghianati hasil.
Dan
satu, dibalik foto-foto bahagiaku bermain salju atau foto nyengir waktu
jalan-jalan disudut kota Zhengzhou itu gak mungkin aku gak mengalami hal buruk
dan selalu enak karena hidup diluar negeri dan bisa jalan-jalan seenaknya.
Mungkin emang bener kata orang, kok enak sih ya lave bisa kuliah di luar
negeri, bisa foto-foto ditempat bagus, pake coat atau jaket winter kemana-mana,
minum hot chocolate dan ngrasain salju atau udara dingin yang seger. Asal
kalian tau ya, aku ga mungkin nunjukin ke kalian waktu aku lagi sedih dan
nangis karena homesick atau takut gak bisa nututin materi kuliah. Yang aku
tunjukin tuh foto-foto waktu aku jalan-jalan dan seneng-seneng, dan kebetulan
spot-spot fotonya disini juga bagus.
Jadi,
cukup disini aja aku nulisnya hehe. Cukup lega sudah menuangkan semua cerita di
entri baru setelah sekian lama off. Sampai ketemu di tulisan yang baru ya,
semoga bermanfaat untuk kalian.
Salam
hangat dari dinginnya winter dikota Zhengzhou,
Lavenia.
- 02.36
- 4 Comments
Second Day,
Never Be Boring!
Pagi-pagi sekali pukul 05.30 waktu
setempat, saya dan Almira sudah bangun dan bersiap untuk agenda hari ini yaitu Study Visit. Mungkin kita menganggap
pukul 05.30 di Indonesia sudah termasuk pagi yang crowded, namun berbeda dengan di Malaysia yang pengaturan waktunya
lebih cepat satu jam dibanding Indonesia. Disini, semua dimulai pukul 08.00
meskipun stasiun MRT sudah beroperasi pukul 06.00. Kami sengaja bangun lebih
awal dan bersiap untuk menghindari adanya keterlambatan, disamping itu Liaison Officer kami Ramlan sudah
mengingatkan untuk tidak terlambat karena perjalanan akan memakan waktu kurang
lebih 2 jam dengan jarak tempuh 80 km.
Segera setelah bersiap, saya dan
Almira turun ke lounge untuk breakfast. Terlihat rekan-rekan Asia Student Summit yang lain sedang
mengantri untuk mengambil makanan favorite
masing-masing. Makanan yang disajikan pagi ini sangat lengkap, mulai dari
sereal, roti, canai, hingga mie goreng. Jenis main course yang disajikan adalah masakan india, arab dan china karena
kebanyakan penduduk Malaysia memiliki ras india, china, arab, melayu dan
lain-lain.
Bus yang akan kami gunakan terlihat sudah
terparkir didepan hotel. Satu persatu kami masuk dan mencari tempat duduk. Selama
perjalanan, saya duduk bersama Almira meskipun kami berada dalam team yang berbeda.
Sepanjang perjalanan yang saya lalui,
saya melihat betapa bersihnya kota ini dengan gedung-gedung pencakar langitnya,
bahkan dengan cuaca dan environment
yang sangat mirip dengan Indonesia. Terlebih lagi infrastruktur, tol, jalan, fly over dan segala konstruksinya sangat
tertata rapi. Selama perjalanan, terlihat kendaraan yang melewati tol maupun
jalan lokal sangat jarang dan sepi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat public transportation di kota ini sudah
tertata dengan baik. Saya bahkan bisa menghitung banyaknya sepeda motor yang
melaju di sepanjang jalan. Sebagai orang teknik sipil, sense of engineering saya sedikit terasah saat itu.
Dua jam berlalu dengan cepat, kami
akhirnya menginjakkan kaki di lokasi pertama yaitu Universiti Pendidikan Sultan
Idris di daerah Perak, Malaysia tepatnya di Tanjong Malim. Kami disambut hangat
oleh panitia saat itu. Sebelum memasuki ballroom,
kami diberi seminar kit dan id card. Pihak
universitas memberikan presentasi mengenai perkuliahan, beasiswa, serta
kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk melanjutkan pendidikan disana. Didalam
forum terjadi tanya jawab antara mahasiswa dan dosen. Kebanyakan dari kami
tidak terlalu bersemangat mengikuti forum karena background kami adalah mahasiswa ilmu murni, sedangkan Universiti Pendidikan
Sultan Idris menaungi pendidikan yang nantinya mencetak mahasiswa untuk siap menjadi
guru atau dosen setelah wisuda. Sambil sesekali membuka handphone, saya menghubungi teman saya yang tinggal di Kuala Lumpur
untuk menanyakan kabarnya. Kami berencana untuk bertemu di akhir minggu setelah
saya menyelesaikan acara ini.
Forum tersebut
terbilang cukup lama dan membosankan sehingga membuat saya mengantuk, ditambah
karena saya bangun terlalu pagi. Saya mencoba tetap stand face up untuk menghormati panitia yang sudah susah payah
mengatur acara ini sedemikian rupa. Tidak lama kemudian, tiba saatnya kami
untuk study tour di sekeliling
kampus. Saya tidak terlalu berminat mengikuti agenda tersebut dan memilih untuk
istirahat dibawah pohon dengan sesekali berfoto dan membuat video untuk
dokumentasi. Beberapa menit kemudian panitia melakukan gathering dan kami dikumpulkan dalam sebuah aula untuk bersantap
siang bersama. Sembari diiringi musik Melayu dan lagu-lagu Indonesia, kami
menyantap makan siang dengan lahap. Saya merasa sedikit mengatasi kebosanan
saat itu dengan adanya lagu-lagu sehingga kami bisa bernyanyi bersama. Waktu berlalu,
kami berpamitan dan segera menuju lokasi selanjutnya yaitu Universiti Malaya.
- 03.10
- 0 Comments
Jakarta,
Agustus 2016
Pagi itu pukul 05.30 saya terbangun dari
alarm handphone saya di sebuah hotel yang cukup mewah dalam
kompleks Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta. Pukul 08.30 saya akan melakukan
penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk mengikuti sebuah
program Asia Student Summit 2016 yang diadakan oleh Indonesia
Youth Leader Alliance dimana forum ini masih merupakan satu naungan Youth
Excursion dan PPI Indonesia. Saya sangat bersemangat sekali hari itu
karena penerbangan ini akan menjadi salah satu penerbangan solo saya pertama
kalinya. Sebenarnya saya tidak sendiri, saya berangkat dari Surabaya ke Jakarta
sehari sebelumnya bersama Grace teman yang baru saja saya kenal.
Setelah selesai mandi dan berkemas, saya
dan Grace segera menuju Terminal 2F untuk melakukan check in. Hari
itu, di Terminal 2 untuk keberangkatan internasional terjadi switch-moving untuk
maskapai Airasia karena Bandara Soekarno-Hatta digenangi air
akibat hujan lebat yang mengguyur Jakarta beberapa hari ini. Sempat kebingungan
karena adanya kesalahan Gate, kami akhirnya berhasil menemukan Gate yang sesuai
dengan nomor penerbangan kami. Ternyata didepan Gate kami bertemu
dengan rekan-rekan yang akan mengikuti program Summit ini
dengan penerbangan yang sama. Hari itu saya bertemu Alvin, Mutia, Risni dan
Almira. Almira akan menjadi roommate saya nantinya, kami juga
sudah saling berkomunikasi melalui Whatsapp sebelumnya.
Tidak lama kemudian, pintu Gate dibuka dan
kami satu persatu masuk ke dalam pesawat. Kami disambut oleh pramugari dan
pramugara dengan logat Melayu yang khas. Saya sangat excited sekali,
segera saya letakkan koper kecil dan tas ransel saya ke dalam kabin dan segera
duduk di-seat saya. Kebetulan saya duduk tepat disamping jendela
dan penerbangan yang akan saya lalui adalah penerbangan pagi, sehingga saya
bisa leluasa melihat pemandangan dari atas pesawat.
Dua setengah jam perjalanan sudah berlalu,
saya berhasil mendarat di Bandara Kuala Lumpur (KLIA 2), Malaysia dengan
selamat. Bersama teman-teman yang bergabung dalam acara ini, kami bersama-sama
menuju imigrasi dan segera menuju pintu keluar untuk mencari panitia yang
menjemput kami. Dengan banner Asia Student Summit 2016, seseorang
dengan bangganya mengangkat banner tersebut dengan pakaian Youth
Excursion berwarna biru muda yang eye-catching sehingga
kami dapat secara langsung mengenali Ramlan, Liaison Officer kami
yang akan mengantar sampai hotel dan mengarahkan kami hingga acara ini selesai.
Kami segera menuju lokasi bus shuffle dan bergegas menuju
Hotel Sentral.
Sesampainya di KL Sentral, kami
bersama-sama berjalan menuju hotel yang lokasinya tepat berada di belakang KL
Setral. Saya dan Almira melakukan check in dan mendapat nomor kamar 1104 yang
terletak di lantai 11. Pada awalnya, saya berekspektasi bahwa hotel yang akan
saya tempati adalah sejenis hotel melati atau bahkan hostel seperti hotel murah
di Singapura yang beberapa waktu lalu saya kunjungi. Namun ekspektasi tersebut
bahkan jauh diluar pemikiran saya. Hotel yang akan saya tempati satu minggu
kedepan adalah hotel bintang 3 dengan view kota Kuala Lumpur
dan segala pemandangan indahnya. Saya sangat bersemangat sekali dan tidak
henti-hentinya berteriak didalam kamar, hal tersebut membuat Almira tertawa
terbahak-bahak. Sebagai teman yang baru saja kenal, saya dan Almira cepat
sekali akrab meskipun Almira lebih muda satu tahun dibawah saya, namun kami
sudah seperti teman lama. Setelah kami meletakkan koper dan ransel, segera kami
bergegas mandi dan bersiap untuk jalan-jalan. Saya, Almira dan Alvin keluar
dari hotel kemudian berjalan-jalan untuk sekedar berfoto atau melihat-lihat.
Lokasi kami dekat dengan Brickfields atau Little India, sehingga banyak sekali
orang-orang india berlalu lalang disekitar hotel. Setelah puas berjalan-jalan,
kami kembali ke hotel untuk persiapan welcoming party pukul
18.00 waktu setempat. Sekali lagi, hal ini tidak terduga. Pada awalnya saya
berfikir bahwa kami akan dikumpulkan dalam suatu aula atau ballroom yang
formal, dengan speakers dan suasana yang serius, but it
didn’t. We went to one of the luxury restaurant in NU Mall and
they gathered us to have dinner! Tidak ada suasana yang tegang dan
formal, kami semua sangat mudah akrab. Apalagi panitia mengadakan ice
breaking session yang membuat suasana semakin hangat. Masing-masing
dari kami dikumpulkan dalam suatu team, saya termasuk dalam
Petronas Team. Satu setengah jam berlalu, acara tersebut akhirnya
berakhir. Kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan persiapan agenda hari
selanjutnya.
Sebelum kami beristirahat hari itu, saya
berkata pada Almira, “Mir, this would be our excited memories in life
ever! Particularly, one week ahead!”. Almira tertawa dan mengangguk,
kemudian saya menutup mata dan sesekali tersenyum melihat view Kuala
Lumpur dengan lampu-lampu redupnya dan jalanan yang sudah agak lengang ditelan
malam melalui jendela.
![]() |
Kuala Lumpur view from my window room :) |
- 01.34
- 2 Comments








